DTI atau debt to income adalah perbandingan total cicilan per bulan dengan penghasilan bersih. Pelajari cara menghitung DTI untuk pengajuan KPR, dengan contoh.
DTI atau debt to income adalah perbandingan total cicilan per bulan dengan penghasilan bersih. Bank memakai angka ini untuk menilai kemampuan bayar dalam pengajuan. Semakin besar DTI, semakin berat beban cicilan terhadap penghasilan. Cicilan yang dihitung mencakup cicilan KPR yang diajukan dan cicilan lain yang sudah berjalan.
Penghasilan bersih Rp10.000.000 per bulan. Cicilan lain Rp2.000.000 dan cicilan KPR yang diajukan Rp1.000.000. Total cicilan Rp3.000.000, sehingga DTI = 3.000.000 / 10.000.000 x 100 = 30 persen. Angka ini hanya contoh. Jika cicilan KPR yang diajukan naik menjadi Rp3.000.000, DTI menjadi 50 persen dengan penghasilan yang sama.
Batas rasio 30 sampai 35 persen adalah kebiasaan umum yang dipakai banyak bank. Angka ini tidak ditetapkan sebagai aturan resmi.
Tidak ada angka tunggal. Batas setiap bank berbeda. Batas rasio 30 sampai 35 persen adalah kebiasaan umum yang dipakai banyak bank. Setiap bank punya kebijakannya sendiri, jadi tanyakan ke bank Anda.
Tidak sama. DTI mengukur beban cicilan terhadap penghasilan, sedangkan plafon adalah jumlah pinjaman yang disetujui bank.
Tidak. Bank juga menilai riwayat kredit, usia, status kerja, dan jumlah tanggungan.
Angka DTI turun jika total cicilan berkurang atau penghasilan bersih naik. Hitung dulu skenarionya di kalkulator sebelum mengajukan.
Kalau ada kalkulator atau fitur untuk KPR dan pinjaman yang Anda butuhkan, tulis permintaannya.